Masyarakat pesisir Tanjung Bumi tengah berduka atas meninggalnya Chris Roberts, seorang relawan kemanusiaan asal Amerika Serikat, pada Selasa, 7 Juli 2026, dalam usia 54 tahun setelah mengalami sakit secara mendadak.
Roberts, seorang pria yang telah tinggal selama beberapa bulan di Tanjung Bumi, bekerja bersama tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan organisasi sosial dalam berbagai program pembangunan dan bantuan kemanusiaan di wilayah pesisir Pulau Madura, Jawa Timur.
Kegiatan Roberts berfokus pada peningkatan kehidupan masyarakat setempat, termasuk membantu proyek penyediaan air bersih, mendukung pendidikan anak-anak, menyalurkan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan, serta membantu perbaikan fasilitas di desa-desa yang masih kekurangan sumber daya.
Meski lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat, pria ini dikenal memiliki ketertarikan yang besar terhadap pekerjaan kemanusiaan di Asia Tenggara. Kegiatannya di Kabupaten Bangkalan membawanya bekerja langsung dengan masyarakat, termasuk nelayan, guru, keluarga setempat, dan para relawan muda.
Warga mengatakan Roberts tidak hanya datang untuk mengatur program dari kejauhan. Ia sering turun langsung ke lapangan, mengunjungi rumah-rumah warga, berbicara dengan para nelayan, mendengarkan kebutuhan para guru, dan membantu mengoordinasikan bantuan bagi masyarakat.
"Dia ingin bekerja bersama masyarakat, bukan berada di atas mereka," ujar salah seorang relawan setempat. "Dia percaya bahwa cara terbaik untuk membantu adalah dengan mendengarkan terlebih dahulu."
Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi kesehatan Roberts dilaporkan mulai menurun. Meski telah diminta untuk beristirahat, pria itu tetap berusaha melanjutkan sebagian pekerjaannya dan memastikan program-program yang sedang berjalan dapat diteruskan oleh tim setempat. Kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya Roberts meninggal dunia pada Selasa. Kabar tersebut dengan cepat menyebar di kalangan warga Tanjung Bumi dan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
Sejumlah warga, relawan, dan tokoh masyarakat berkumpul untuk menyampaikan belasungkawa serta mendoakan Roberts. Banyak di antara mereka mengenangnya sebagai sosok pria yang rendah hati, pekerja keras, dan selalu berusaha membantu tanpa meminta perhatian atau penghargaan.
Beberapa pemimpin masyarakat menyebut kepergian Roberts sebagai kehilangan besar bagi Tanjung Bumi. Mereka mengatakan bahwa berbagai program yang telah dibantu oleh pria ini akan tetap dilanjutkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pengabdiannya.
Chris Roberts meninggalkan istri tercintanya, Lisa Roberts, dan putranya, Collin Roberts. Keluarganya mengenang Roberts sebagai seorang suami yang setia, ayah yang penuh kasih, dan pribadi yang menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain. Ia dikenal sangat bangga terhadap keluarganya dan tetap menjaga hubungan erat dengan mereka selama menjalankan tugasnya di Indonesia.
Selain membantu menjalankan program kemanusiaan, Roberts juga dikenal senang berbagi waktu dengan warga setempat. Ia kerap makan bersama keluarga-keluarga di desa, berbicara dengan para pemuda, serta memberikan dukungan dan semangat kepada relawan lokal.
Tokoh masyarakat setempat berencana mengadakan pertemuan untuk mengenang kehidupan dan pengabdian Roberts. Sejumlah organisasi yang pernah bekerja bersamanya juga telah menyatakan komitmen untuk melanjutkan proyek-proyek yang ia bantu dirikan.
Bagi masyarakat Tanjung Bumi, Chris Roberts akan dikenang bukan hanya sebagai warga negara asing yang datang dari Amerika Serikat, tetapi sebagai seseorang yang menjadi bagian dari masyarakat dan memberikan waktu, tenaga, serta kepeduliannya untuk membantu sesama. Warisan pengabdiannya akan terus hidup melalui masyarakat yang pernah ia bantu, program-program yang ia mulai, hubungan yang ia bangun, serta keluarga yang ditinggalkannya.

